Text
Hidup fana, hidup penuh makna: sebuah rampaian puisi, c.1-2
Dalam kumpulan puisinya kali ini, Weinata Sairin masih prihatin atas berbagai realitas empirik yang mengoyak-ngoyak negeri. Ia mengajak kita semua untuk bangkit memulihkan Indonesia. Ia juga banyak berbicara tentang kudusnya ibadah Minggu dan mengingatkan para pendeta agar menyajikan khotbah-khotbah yang positif, edukatif, dan konstruktif bagi pemantapan iman umat. Dalam puisi “Pada Titik 74” yang ditulis tepat pada HUT-nya ke-74, ia mengungkapkan, walau fisiknya terus melemah, ia akan tetap bersemangat melakukan berbagai aktivitasnya. Ia juga tak menyesal cita-citanya menjadi sastrawan tak tercapai. Sebab, Tuhan benar-benar mengubahkan dirinya dalam pelayanannya sebagai pendeta (sejak 1974). Dalam puisi bertanggal 12 September 2022—tepat 11 tahun ia menyandang gelar emeritus—ia justru merasa bersyukur karena “roh kesastraan itu menjadi bagian integral dari kependetaanku”. Ia berharap, Tuhan mengaruniai usia lebih lama, supaya ia dapat terus memberi makna bagi Tuhan dan sesama dalam hidupnya nan fana ini.
| 241003813 | 821 SAI h.1 | Moriah Hills | Available |
| 241003814 | 821 SAI h.2 | Moriah Hills | Available |
No other version available